JAKARTA-Pemerintah mencatat lebih dari 50 juta rakyat Indonesia tergolong kelas menengah atas dan 120 juta penduduk merupakan aspiring middle class (kelas menengah harapan) yakni kelompok yang tidak lagi miskin dan menuju kelas menengah yang lebih mapan.
Kelompok menengah ini menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.
“Di 2018 karena guncangan ekonomi, dari suku bunga Amerika, perang dagang, seluruh dunia terkena imbas. Dalam situasi itu pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus menyikapi. Kita harus melakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi impor, tapi risikonya pertumbuhan ekonomi tertekan. Tapi kita masih bisa menutup pertumbuhan ekonomi dengan baik yang diperkirakan sekitar 5,1-5,2 dan inflasi kita 3,2-3,5 persen ini di situasi di tengah guncangan terjadi dan sering kita tidak melihat sisi ini, terlebih dalam komunikasi politik,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam sesi diskusi pagi di Tjikini Lima, Jakarta, Selasa (22/1).
Menkeu menjelaskan mengenai proyeksi ekonomi Indonesia khususnya yang berhubungan dengan kelas menengah, termasuk juga potensi dan peluang yang muncul dalam perekonomian Indonesia 2019-2024. .
“Dari capaian ini, APBN kita ditutup dengan defisit 1,76. Ini sangat baik, kita win and win, artinya kita melewati guncangan, growth terjaga dan APBN kita masih bagus,” jelasnya.















