Opini: Defri Ngo
Jurnalis & Founder PolisLab Institute
Kematian YBS (10), siswa SD di Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada beberapa hari lalu membawa duka yang mendalam. Ia ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri. Sepucuk surat bertuliskan salam perpisahan tergeletak tak jauh dari tempat kejadian. Alamatnya tertuju untuk ibunda tercinta.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis (29/1/2026) itu menyedot atensi publik luas. Tak ayal, media nasional, lokal, hingga group-group WhatsApp keluarga riuh memberitakan peristiwa tersebut.
Di Instagram, ucapan duka yang disertai kemarahan personal muncul tak henti-henti. Seorang kawan dalam sebuah pesan WhatsApp menyebut kematian YBS sebagai akibat dari ketimpangan struktur sosial- ekonomi masyarakat. YBS adalah representasi dari wajah NTT yang miskin, tertinggal dan terluar.
Seperti ramai diinformasikan, kematian bocah 10 tahun tersebut berkaitan dengan permintaan untuk membelikan buku dan pulpen. Karena permintaan itu tak juga dikabulkan sang ibu, YBS akhirnya menghabisi dirinya sendiri dengan cara yang naas.
Namun, tanpa perlu masuk terlalu jauh ke latar belakang dan motif persoalan tersebut, tulisan ini coba menghadirkan kritik terbuka terhadap oknum yang menjadikan kematian YBS sebagai “batu loncatan” untuk meraup simpati masyarakat.













