Salah satu yang paling mencolok adalah respons Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago yang membagi-bagikan buku kepada para siswa SD di Pruda, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka pada Sabtu (7/2/2026) lalu.
Meski lokus (tempat) dan tempus (waktu) antara kedua peristiwa tersebut jauh berbeda, namun satu kesamaan yang menghubungkan keduanya adalah pada aspek isu. Kedua peristiwa ini sama-sama berpusat pada isu kekurangan sarana prasarana (buku dan pulpen).
Karena itu, dengan mempertimbangkan apa yang dilakukan Bupati Sikka, kita bisa sampai pada suatu prasangka bahwa bantuan yang diberikan kepada para siswa SD di Desa Pruda tak lain merupakan gestur politik dengan “mengkooptasi” peristiwa kematian YBS. Tujuannya tak bukan sebagai jualan politik ke publik luas, khususnya masyarakat Kabupaten Sikka.
Gestur Politik Murahan
Seperti tersambar petir di musim hujan, Bupati Sikka pada akhir Minggu pertama Februari membagi-bagikan buku dan alat tulis untuk para peserta didik di SD Pruda. Oleh media Pos Kupang, tindakan ini disebut sebagai bentuk “Peduli Pendidikan di Sikka NTT.”
Peristiwa tersebut terjadi tepat delapan hari pasca kematian YBS. Di saat-saat seperti ini, apa yang dilakukan Bupati Sikka tidak bisa dibaca semata-mata sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib para peserta didik di Desa Pruda yang nota bene memiliki keterbatasan ekonomi.













