Unik menceritakan bahwa banyak pelajaran yang diterima dari TPSA project. Berbagai informasi dan kritik dari para tenaga ahli sangat menantang dan telah memotivasinya hingga berhasil menelurkan merek Cotton Flair. “Selama ini saya mengedepankan desain dan warna ekspresif yang hanya sesuai dengan permintaan konsumen di pasar lokal. Namun saya dibimbing untuk membuat koleksi pakaian yang mengusung tema sederhana dengan warna yang lembut dan tidak terlalu ramai, sebagaimana keinginan dan karakteristik konsumen di pasar Kanada,” ujar Unik.
Sementara itu, Danny pemilik PT. World KNK Surya Anugerah yang memproduksi untuk memenuhi merek-merek ternama, membagi pengalamannya mendapatkan ilmu strategi ekspor. Melalui bimbingan yang diterima, Danny yang selama ini menggunakan pihak ketiga dalam mengekspor, diarahkan untuk menemukan mitra dan mengekspor secara langsung produk-produknya di pasar Kanada.
“Saya menyadari bahwa proses untuk mencapai keberhasilan tidak mudah, serta perlu waktu untuk belajar dan terus memperbaiki diri agar tidak tergerus dalam persaingan global yang semakin kompetitif,” ujarnya memberikan motivasi.
Manajer TPSA Project Said Fauzan Baabud yang juga menghadiri seminar tersebut menjelaskan, seminar ini bertujuan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh pelaku usaha di Indonesia agar mendapat peluang yang sama memasuki pasar Kanada. Perusahaan skala besar dapat memasok merek-merek ternama, sedangkan perusahaan skala kecil dan menengah diharapkan dapat memasok butik-butik maupun menjalin kemitraan dengan toko-toko rintisan di media daring yang saat ini sedang menjamur.














