“World Bank itu kan bukan lembaga auditor, World Bank itu ingin investasi di Indonesia. Nah terus kita tanya, keuntungannya berapa? Ya kalau terlalu mahal ya kita enggak mau juga. Banyak orang dan lembaga internasional ingin investasi di Indonesia. Makanya mereka pantau terus (ekonomi Indonesia),” ujarnya lagi.
Hal yang sama berlaku bagi OECD.
Menurut Febrio, OECD merupakan representasi negara-negara maju yang secara aktif memantau kondisi ekonomi Indonesia untuk mengidentifikasi peluang investasi.
“OECD itu juga adalah perpanjangan tangan dari negara-negara OECD. Dia ingin tau, makanya dia buat (laporan) selalu mengkaji ekonomi Indonesia,” kata dia.
Meski demikian, dirinya menyambut baik perhatian dan pemantauan lembaga-lembaga internasional terhadap perekonomian nasional.
Pemerintah pun siap menunjukkan sektor-sektor potensial dan dukungan kebijakan yang disiapkan untuk memperkuat prospek investasi.
“Sehingga kita justru malah melihat dan menyambut baik mereka terus memantau ekonomi Indonesia. Artinya mereka ingin investasi. Lalu kita tunjukkan peluangnya di sini. Kita akan berikan support di beberapa sektor,” ujarnya.
Adapun dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2025 yang dirilis pada Selasa (7/10), Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) masih relatif tinggi.














