Selain itu, guna lebih meningkatkan kompetensi Politeknik ATI Makassar, Kemenperin cukup banyak mendatangkan peralatan praktik terbaru sejak tahun 2019.
“Terutama peralatan-peralatan yang terkait dengan proses penggunaan robotik. Apalagi, Politeknik ATI Makassar akan masuk program satelit dari PIDI 4.0 yang ada di Jakarta. Jadi, untuk digital manufaktur dan robotiknya akan dibuat showcase-nya di ATI Makassar, sehingga bisa menjadi capability center dan juga dapat mempelajari tentang konsep industri 4.0 di dalam proses manufaktur,” tutur Eko.
Kepala BPSDMI optimistis, berbagai upaya tersebut memudahkan transformasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten ke arah digitalisasi.
“Selain mendapat bekal kemampuan teknik manufaktur yang dasar, seperti mengelas, para mahasiswa juga belajar desain dan merakit mesin dan peralatan melalui aplikasi digital,” imbuhnya.
Bahkan menariknya, para lulusan Politeknik ATI Makassar tidak hanya mendapat ijazah saja, tetapi juga sertifikasi kompetensi. Setiap tahun, politeknik tersebut mampu meluluskan sebanyak 450 lulusan dari tingkat D3 dan D1. Mereka semua langsung terserap kerja karena adanya kerja sama dengan sejumlah perusahaan industri.














