Saiful menceritakan, aktivitas produksi di Tanggulangin dimulai sejak tahun 1939 yang diawali dengan banyaknya perajin yang memproduksi tas dan koper kulit.Kemudian, jumlah perajin terus berkembang pada tahun 1976 dengan didirikan Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako) yang mewadahi pelaku IKM tas dan Koper di Tanggulangin.
“Pada tahun 1985 mulai bermunculan perajin yang membuka toko di depan rumah dan menjadi daerah tujuan wisata belanja produk tas dan koper yang cukup terkenal di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Kemenperin mencatat, saat ini anggota Intako sebanyak 298 unit usaha, sedangkan jumlah IKM di Tanggulangin mencapai 798 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja lebih dari 2.500 orang.














