ROMA-Meskipun masih terdapat beberapa kasus terkait dengan kebebasan beragama, namun pada dasarnya terdapat kemajuan yang sangat signifikan dalam kerukunan umat beragama di Indonesia. Oleh karena itu para pemuka agama didorong untuk terus berpikiran positip dalam membangun kebersamaan perdamaian berdasarkan Pancasila.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI) Hermawi Franziskus Taslim di depan ratusan anggota Ikatan Rohaniwan Rohaniwati Katolik Indonesia di Kota Abadi (IRRIKA), yang sedang melakukan studi di Italia, Senin (26/10).
Bersama Taslim juga turut berbicara di Collegio St. Petro, Roma itu, Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Bangsa), AM Putut Prabantoro. Keduanya menjadi pembicara atas permintaan Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Ignatius Suharyo, yang baru saja mengikuti Sinode Para Uskup Sedunia bersama Mgr. Frans Kopong, Ketua Komisi Keluarga – KWI di Vatikan.
Taslim menjelaskan, kehidupan keagamaan, harus dibangun dalam semangat kesetaraan dan saling menghormati. Konflik agama tidak melulu selalu diawali dari persoalan agama itu sendiri tetapi dapat berawal juga dari persoalan sosial kemasyarakatan lainnya. Oleh karena itu, Taslim menegaskan, para pemuka agama harus sering bertemu dalam konteks kebudayaan dan sosial dengan membangun aksi nyata. Taslim mendorong para pemuka agama dan adat untuk menghindari dialog-dialog semu yang sifatnya seremonial belaka. “Kita harus melakukan tindakan nyata di lingkungan di mana kita hidup dan sekaligus juga peka terhadap persoalan yang muncul di masyarakat sekitar. Persoalan muncul ketika para pemuka agama tidak peka terhadap dunia sekitar,” ujarnya.














