Perilaku “main aman” ini tentunya akan menghambat pertumbuhan aset dan berpotensi menurunkan kesejahteraan di masa pensiun nanti.
Epic fail #2: Yang tua jadi tuan tanah
Survei yang sama menemukan bahwa 38% responden berusia 55+ memprioritaskan properti sebagai aset utamanya. Alasannya: persepsi bahwa harga properti akan terus naik.
Di usia senja, saat kita tak lagi produktif dan justru akan mengonsumsi aset kita untuk hidup, likuiditas seharusnya jadi sahabat kita.
Jangan sampai ketika dibutuhkan, aset-aset kita butuh waktu bertahun-tahun untuk dijual. Jangan lupakan juga, bahwa tahap akumulasi alias pertumbuhan aset sudah lama berlalu: Seharusnya dilakukan saat kita muda.
Saat pensiun bukan lagi waktu yang tepat untuk menghadapi risiko fluktuasi berlebih akibat kita masih harus menumbuhkan kekayaan.
Epic fail #3: Lupa tameng keuangan.
Satu kesalahan fatal lainnya adalah tidak siapnya kita menghadapi kejadian tak terduga.
Saat tak punya perlindungan, maka sakit, kehilangan jiwa, kehilangan pekerjaan dan penghasilan, bisa memorak-porandakan rencana kita menikmati pensiun sejahtera.
Asuransi jiwa, asuransi kesehatan dan dana darurat adalah tameng yang tak boleh lupa disiapkan sebelum kita merencanakan tujuan lain dalam hidup.














