JAKARTA-Presiden Joko Widodo memperlihatkan kekecewaan saat meninjau Pusat Pemantauan Pelayanan Ekspor Impor Pelabuhan Tanjung. Pasalnya, Orang nomor I di Indonesia ini mendapati pelayanan pelabuhan masih sangat lama dan tidak efisien. Salah satunya adalah masih lamanya waktu bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok yang diklaim masih 5,5 hari. Karena itu, dia meminta agar dwelling time dipangkas menjadi 4,7 hari, bahkan mendekati negara-negara tetangga seperti Singapura yang hanya satu hingga dua hari.
Bahkan berdasarkan cacatannya, ketidakefisienan di dalam aktivitas Pelabuhan Tanjung Priok ini mencapai sekira Rp780 triliun. “Karena saya hitung ketidakefisieannya. Angkanya tidak kecil, mendekati Rp780 triliun,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan pimpinan kementerian dan lembaga terkait di Ruang Rapat Planning and Control Tower , Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (17/6).
Rapat langsung digelar setelah presiden tidak mendapat jawaban yang memuaskan saat meninjau Pusat Pemantauan Pelayanan Ekspor Impor Pelabuhan Tanjung Priok. “Saya ingin, aktifitas pelabuhan lebih cepat, lebih efisien, dan memberikan pelayanan. Urusan kita adalah urusan melayani urusan masalah trafficking, loading, unloading, memang itu urusannya pemain bisnis,” katanya.















