Menurut Presiden , proses dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok itu merupakan yang terlama di Asia. Hal ini terjadi karena yang melayani tidak mau cepat. Karena itu, Presiden Jokowi mendesak agar dwelling time itu bisa ditekan dari rata-rata 5,5 hari menjadi 4,7 hari. “Kita tidak perlu menyamai negara tetangga soal dwelling time itu, tapi setidaknya mendekati mereka,” pintanya.
Perbaikan ini sangat penting mengingat nilai ketidakefisienannya aktifitas pelabuhan terlalu besar. “Pelayanan di Tanjung Priok itu terlalu lama, ada yang sehari, ada yang tiga hari, 20 hari, ada yang 25 hari. Itu yang harus diselesaikan,” tegasnya.
Presiden meminta agar tidak perlu menceritakan hal-hal yang baik saja. Tetapi hal yang kurang baikpun harus diutarakan agar segera dilakukan perbaikan. “Saya ingin mengetahui siapa yang bikin pelayanan paling lambat? Instansi mana yang paling lambat, dan untuk apa? Saya tanya, nggak ada jawabannya. Akan saya cari sendiri jawaban itu dengan cara saya sendiri,” imbuhnya.
“Kalau sudah sulit, bisa saja Dirjennya saya copot, bisa saja pelaku kerjanya dicopot, bisa juga menterinya yang saya copot. Pasti kalau itu, kalau saya kerja seperti itu. Artinya apa? Kalau ada sesuatu, disampaikan,”tuturnya















