Oleh: Agustinho Aquito Mendonca
Mahasiswa Pascasarjana institut Pariwisata Trisakti
David Newman (2006) dalam sebuah karya monumental berjudul Boundaries, Borders and Barriers: Contemporary Perspectives on Territorial Limits pernah menulis bahwa bagi masyarakat yang hidup di wilayah perbatasan, batas negara sering kali dipahami sebagai ruang perjumpaan alih-alih sekadar pemisah.
Di wilayah ini, perbatasan menjadi tempat berlangsungnya hubungan sosial, ekonomi, dan budaya lintas negara, sehingga membentuk realitas sosial yang berbeda dari perspektif negara pusat. Dengan demikian, perbatasan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai entitas geografis, melainkan sebagai arena sosial yang sarat makna dan pengalaman manusia.
Perbatasan sering dipahami sebagai garis pemisah, batas administratif yang menandai berakhirnya satu wilayah dan dimulainya wilayah lain. Namun di perbatasan Republik Indonesia–Timor Leste, batas negara justru menyimpan cerita yang lebih dalam: sejarah yang saling terhubung, budaya yang beririsan, serta hubungan sosial yang telah terjalin jauh sebelum negara modern dibentuk. Di ruang inilah, perbatasan tidak sekadar menjadi simbol kedaulatan, tetapi juga arena perjumpaan manusia













