Ia mengungkapkan, sejak 2011 pertumbuhan industri manufaktur selalu berada di bawah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Padahal, sektor ini diharapkan menjadi motor pengembangan hilirisasi sumber daya alam sekaligus menyerap tenaga kerja terdidik.
Saat ini, lebih dari satu juta sarjana tercatat menganggur.
Said juga menyinggung hasil kajian Celios yang dimuat sejumlah media.
Berdasarkan perhitungan tersebut, rencana impor 105.000 mobil niaga berpotensi menggerus PDB hingga Rp 39,29 triliun, menurunkan pendapatan masyarakat sekitar Rp 39 triliun, memangkas surplus industri otomotif Rp 21,67 triliun, mengurangi pendapatan tenaga kerja di seluruh rantai pasok industri otomotif Rp 17,39 triliun, serta menekan penerimaan pajak bersih hingga Rp 240 miliar.
Ia mempertanyakan apakah PT Agrinas telah berkomunikasi dengan pabrikan dalam negeri maupun asosiasi seperti Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
Pasalnya, jumlah 105.000 unit hampir setara dengan total produksi mobil niaga sepanjang 2025.
“Bayangkan jika pengadaan mobil oleh PT Agrinas bisa dilakukan di dalam negeri. Langkah ini akan membangkitkan industri otomotif dalam negeri, menyerap tenaga kerja baru, dan efek berantai ekonomi lainnya,” katanya.















