Selain itu, Said mengingatkan bahwa pembelian mobil tersebut bersifat multiyears dan menggunakan APBN di tengah ruang fiskal yang terbatas.
Setiap belanja negara, tegasnya, harus diperhitungkan manfaat ekonominya secara menyeluruh, termasuk aspek layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, serta jaringan bengkel.
“Kalau kita perhitungkan ini semua, bisa jadi harganya lebih mahal dari niatan awal efisiensi,” tegas Said.
Selain itu, kata Said, pertimbangan efisiensi harga saja tidak cukup. Harus dilihat juga apakah kebijakan tersebut memberi dampak penguatan industri dalam negeri atau tidak.
Ia menilai keputusan memilih impor justru menunjukkan sikap abai terhadap penguatan industri nasional.
Padahal, produsen dalam negeri perlu permintaan yang lebih besar agar industrinya tumbuh lebih ekspansif.
Oleh karena itu, Said menegaskan langkah tersebut sebaiknya tidak sekadar dikaji ulang, melainkan dibatalkan.
“Saya sangat menyayangkan uang APBN dibelanjakan tetapi tidak memberi nilai tambah ekonomi buat rakyat di dalam negeri. Lebih bijak langkah ini tak perlu dipikir ulang tapi perlu dibatalkan,” pungkasnya.















