“Mahasiswa perlu memahami sejarah diplomasi Indonesia yang berakar pada prinsip bebas aktif, sebuah nilai luhur yang menegaskan keberanian bangsa untuk berpihak pada perdamaian dunia,” ujar Ibas.
Pada kesempatan tersebut, dia menambahkan bahwa Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono sering mengatakan a million friends and zero enemy sehingga Indonesia perlu merajut sejuta kawan tanpa satu musuh pun.
Sebagai representasi semangat Bela Negara dan global citizenship, Ibas juga mengapresiasi peran UPNVJ dalam membentuk karakter mahasiswa yang patriotik namun berwawasan global. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah soft power paling kuat yang dimiliki Indonesia untuk menembus batas dunia internasional.
“Tidak ada kekuatan lain yang lebih besar dari kekuatan pendidikan dan kolaborasi. Dari kampus seperti UPNVJ inilah lahir diplomat masa depan yang membangun jembatan intelektual antara Indonesia dan dunia,” tutur Ibas disambut tepuk tangan meriah peserta.
“Budaya adalah wajah Indonesia di mata dunia. Dari batik hingga reog, semuanya adalah bahasa universal kita dalam menyampaikan pesan perdamaian dan kebersamaan,” ungkapnya. Menutup sesi, Ibas berpesan kepada mahasiswa Hubungan Internasional agar terus menjadi duta bangsa yang membawa nilai-nilai luhur Indonesia di kancah global.














