“Sebenarnya salamnya sapa. Saudara kita menyapa salam sejahtera bagi kita semua apa bedanya dengan salam kami assalamualaikum warahmatullahi wa baru katuh. Intinya sama semua agama mengajarkan keselamatan. Tetapi sekat yang dibuat menjadi makanan rohani dipakai menjadi simbol baju,” ujar Kiai Nuri, Minggu (17/5/2020).
Ia menganalogikan seperti penggunaan baju. Dalam prakteknya bahwa seseorang tidak bisa memaksakan kehendak layaknya persoalan baju ukurannya tentu ada yang berbeda.
“Misalnya saya tidak bisa memaksa romo saya memakai sarung misalnya saya pakai celana ukuran celananya romo saya nggak pas. Artinya kita memiliki fisik yang berbeda tetapi spirit dan rohaninya sama,” katanya.
Pada dasarnya, Kyai Nuri menyebut intinya setiap agama sama yakni mengajarkan akhlak.
Menurutnya ketika semakin tinggi keberagaman maka akhlaknya akan semakin baik.
Masalah yang besar bahkan akan menjadi kecil jika setiap umat beragama saling terikat dengan rohani.
“Maka begitu saya dikasih tahu saudara saya ‘romo kevikepan akan ke sini’, bagi saya sangat welcome kenapa karena sudah lama saya ingin menjalin hal seperti ini,” ungkapnya.
Ibarat hubungan yang tidak dipupuk dengan musuh banyak tebtu akan semakin memperkeruh suasana dan membuat hidup tidak nyaman.












