JAKARTA – Di tengah volatilitas pasar yang terus bergejolak, menemukan saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya menjadi kemampuan krusial bagi investor Indonesia.
Ketika IHSG bersifat volatil digoyang berbagai sentimen baik dalam negeri maupun global, paradoks muncul: ternyata masih ada permata tersembunyi di Bursa Efek Indonesia yang luput dari perhatian mayoritas pelaku pasar.
Benjamin Graham, bapak value investing, pernah mengatakan, “Dalam jangka pendek, pasar adalah mesin voting, tetapi dalam jangka panjang, ia adalah mesin penimbang.”
Prinsip ini sangat relevan bagi investor IDX yang sering terjebak dalam euforia atau kepanikan sesaat, melupakan fundamental perusahaan yang sesungguhnya.
Mengapa Nilai Intrinsik Begitu Penting?
Bayangkan Anda berbelanja di pasar tradisional. Seorang pedagang menawarkan mangga dengan harga Rp50.000 per kilogram, padahal Anda tahu kualitas yang sama biasanya dijual Rp30.000. Anda tentu tidak akan membelinya. Namun di pasar saham, investor sering melakukan hal sebaliknya: membeli saham yang overprice karena terbawa sentimen pasar.
Lo Kheng Hong, investor kawakan Indonesia yang dijuluki “Warren Buffett dari Indonesia”, selalu menekankan pentingnya membeli saham bagus saat harganya murah.














