“Kalau programnya, saya pribadi mengapresiasi bagus buat up-skilling dan re-skilling,” ujarnya.
Menurutnya, antusias sekaligus tingkat penyelesaian pelatihan peserta cukup tinggi.
“Antusiasme peserta bagus, yang menyelesaikan juga hampir 90% lebih, tapi masalahnya ini masih online. Jadi orang masih gampang untuk ikut dan kemarin masih ada kayak kompensasinya cukup gede, sehingga dia seperti semi-bansos,” kata ekonom UI tersebut.
Dikatakan, rencana pemerintah untuk menyelenggarakan pelatihan Kartu Prakerja secara hibrida patut dicermati. Apalagi rencana pemerintah untuk mengurangi bantuan sosial (bansos) yang selama ini diberikan pada peserta. “Itu yang perlu dicermati karena ingin bansos-nya atau karena ingin up-skilling,” tambahnya.
Hanri mengungkapkan peserta Kartu Prakerja juga mendapat manfaat besar dari pelatihan yang mereka ikuti. Mereka bisa masuk di lapangan pekerjaan yang sesuai.
“Karena mereka bisa masuk ke lingkaran kerja yang sesuai dengan lapangan yang sesuai dengan materi pelatihan,” jelasnya.
Para peserta yang berasal dari latar belakang pendidikan menengah juga mendapat manfaat cukup besar. Mereka bisa mendapat peningkatan keahlian maupun keahlian baru. “Dulu yang sekolah SMK itu mereka gajinya sesuai keahlian. Pada titik tertentu gaji mereka turun, makanya mereka perlu up-skilling dan re-skilling,” ungkapnya.














