Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel.
Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki.
Nilai impor Indonesia pada Januari-Oktober 2025 mencapai US$198,16 miliar atau meningkat 2,19 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor US$171,61 miliar, naik 4,95 persen. Sedangkan impor sektor migas mengalami penurunan sebesar 12,67 persen menjadi US$26,56 miliar.
Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor terjadi pada barang modal.
Nilai impor barang modal, sebagai andil utama peningkatan impor, mencapai US$40,55 miliar atau naik 18,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang periode Januari-Oktober 2025, Tiongkok menjadi negara utama asal impor non migas Indonesia dengan nilai US$70,19 miliar (40,90 persen), diikuti Jepang sebesar US$12,17 miliar (7,09 persen),dan Amerika Serikat sebesar US$8,17 miliar (4,76 persen).
Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.
Surplus perdagangan nonmigas sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (US$28,12 miliar), bahan bakar mineral (US$22,59 miliar), besi dan baja (US$15,79 miliar), produk nikel (US$7,39 miliar), serta alas kaki (US$5,47 miliar).












