Dengan adanya beban pajak penghasilan di Semester I-2025 yang sebesar Rp588,33 juta, maka PPRO membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp39,7 miliar atau berbanding terbalik dengan Semester I-2024 yang mengalami rugi sebelum pajak penghasilan sebesar Rp462,28 miliar.
Adapun besaran laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di Semester I-2025 sebesar Rp47,18 miliar atau membaik signifikan dibandingkan Semester I-2024 yang mencatatkan rugi bersih senilai Rp459,57 miliar.
Perolehan laba bersih di Semester I-2025 itu terbantu pula oleh langkah PPRO yang mengatribusikan rugi tahun berjalan kepada kepentingan non-pengendali sebesar Rp7,48 miliar atau meningkat 176,01 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2024 senilai Rp2,71 miliar.
Per 30 Juni 2025, total ekuitas PPRO tercatat Rp9,87 triliun atau melambung 348,64 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang hanya Rp2,2 triliun.
Lonjakan ekuitas ini terutama dipengaruhi oleh penyelesaian Surat Berharga Perpetual melalui konversi utang kepada pihak berelasi senilai Rp7,63 triliun.
Hingga akhir Semester I-2025, jumlah liabilitas PPRO sebesar Rp8,01 triliun atau bisa ditekan hingga 50,06 persen (year-to-date), sehingga total aset perseroan hingga akhir Juni 2025 menjadi Rp17,88 triliun atau lebih rendah 1,97 persen (y-t-d).














