“Kami melihat sektor UMKM, khususnya ultra mikro terus berupaya untuk bangkit pasca pandemi Covid-19. Memang kami akui bahwa segmen ultra mikro ini belum membaik sepenuhnya. Pada data Otoritas Jasa Keuangan, tingkat NPL untuk segmen ultra mikro masih menantang,” tutur Arief.
Guna merespons kondisi tersebut, kata dia, BTPS memperkuat pendampingan yang dilakukan oleh seluruh #bankirpemberdaya dalam membangun empat perilaku unggul nasabah, yakni Berani Berusaha,
Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu atau Solidaritas (BDKS) agar segmen ultra mikro dapat bertahan dalam berbagai situasi.
Arief menyampaikan, lebih dari satu dekade BTPN Syariah menjadi satu-satunya bank umum syariah yang melayani masyarakat inklusi (unbankable) di berbagai daerah, sehingga BTPS akan secara konsisten menjaga kualitas pembiayaan dan melakukan pendampingan yang lebih intensif.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, saat ini kelompok perempuan menjadi target utama pemberdayaan.
Namun demikian, BTPN Syariah juga tetap menjalankan fungsi sebagai bank yang menghimpun dana dari keluarga sejahtera dan selanjutnya disalurkan ke segmen ultra mikro.
Berdasarkan hasil survei Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) terhadap sebagian nasabah BTPN Syariah menunjukkan bahwa nasabah yang mengalami kemiskinan ekstrem terus menurun dan jumlah keluarga dengan anak bersekolah semakin meningkat.












