Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan juga menyusut, terutama akibat berkurangnya pembayaran bunga utang luar negeri.
Sebaliknya, defisit neraca perdagangan migas kembali meningkat akibat pertumbuhan volume konsumsi BBM yang masih mengalami akselerasi dan produksi minyak yang terus menurun.
Di sisi lain, kebijakan BI dalam memperbesar pasokan valuta asing (valas) untuk pembayaran impor minyak menyebabkan transaksi modal dan finansial mengalami defisit sebesar US$1,4 miliar.
Untuk meredam kuatnya tekanan depresiasi rupiah selama triwulan I-2013, BI memutuskan untuk mengambil alih penyediaan sebagian besar kebutuhan valas untuk pembayaran impor minyak dari perbankan domestik.
Kebijakan ini berhasil mengurangi permintaan di pasar valas dan meredam tekanan depresiasi rupiah sehingga memberikan ruang kepada perbankan domestik untuk menambah simpanan valas mereka. Dengan demikian, terjadinya defisit pada transaksi modal dan finansial lebih dikarenakan meningkatnya aset valas bank, bukan karena adanya arus keluar investasi asing.
“Dalam periode tersebut, nilai pembelian surat-surat berharga berdenominasi rupiah, seperti SUN dan saham, oleh investor asing secara keseluruhan justru lebih besar daripada triwulan sebelumnya. Investasi langsung asing (Penanaman Modal Asing/PMA) juga masih surplus, walaupun tidak sebesar triwulan sebelumnya seiring dengan pertumbuhan investasi domestik yang melambat,” tutur dia.













