Saat ini kita memang mundur sejenak dengan diam di rumah. Kita menamai fase ini sebagai fase memasuki “goa Ashabul Kahfi”.
Kita harus bisa memanfaatkannya untuk lebih menggunakan waktu ini dengan produktif.
Berkaca kepada Ashabul Kahfi
Kisah Ashabul Kahfi yang termuat dalam surah al-Kahfi (18) ayat 9-26. Dalam beberapa hal, peristiwa Sumpah Pemuda dan kisah Ashabul Kahfi memiliki kesamaan pesan.
Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar-nya menyatakan bahwa kisah Ashabul Kahfi ini adalah satu kisah percontohan tentang iman yang teguh dan keyakinan yang tidak dapat digoyahkan lagi, sehingga diri penganutnya ditelan dengan segala kerelaan hati oleh keyakinan hidupnya itu.
Ada beberapa pesan yang dapat kita tarik dari keduanya. Pertama, optimisme berbalut iman.
Para pemuda peserta Kongres Pemuda yakin sepenuh hati tentang isi ikrar mereka dan karena itu dengan susah payah mewujudkannya.
Teror, dipenjara, dan dikejar-kejar adalah bagian dari keseharian yang para pendiri bangsa alami dari pemerintahan kolonial Belanda saat itu.
Tetapi toh mereka tetap setia memegang ikrar mereka tentang negeri ini. Karena itu, mereka tidak mundur sejengkal pun dari memperjuangkannya.
Sementara para pemuda Ashabul Kahfi memegang teguh keimanan dan tauhid karena itu rela meninggalkan semua kemewahan yang menjadi hak mereka sebagai putra pembesar negeri.














