Penjajahan, tekanan, penjara, dan berbagai bentuk intimidasi lainnya yang menimpa para pemuda pendiri bangsa Indonesia dan Ashabul Kahfi tak membuat mereka lantas mundur.
Malah mendorong mereka untuk lebih bulat memegang keimanan dan keyakinan mereka (QS. al-Kahfi [18] : 13). Itu karena mereka memegang iman dan keyakinan itu dengan teguh. (QS. al-Kahfi [18] : 14).
Kedua, kolaborasi.
Pemuda Soegondo Djojopoespito, ketua Kongres Pemuda II, mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia setelah membaca Indonesia Merdeka terbitan Perhimpunan Indonesia yang saat itu diketuai Mohammad Hatta di Belanda.
Sebagaimana disebutkan di muka, peserta Kongres Pemuda II yang berjumlah sekitar 700 orang itu datang dari berbagai bangsa dan latar belakang.
Setelah Kongres Pemuda II itu, mereka bersepakat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Ketika akhirnya kemerdekaan negeri ini harus dipertahankan dengan senjata dan revolusi fisik, semua tumpah darah Indonesia turun tangan berada di garis depan.
Mulai dari ulama, kyai, santri, pelajar, petani apatah lagi para pemimpin bangsa. Bung Karno mengistilahkan gerakan ini dengan tepat, gotong royong (kolaborasi).
Pun dengan Ashabul Kahfi.
Mereka kuat karena menjalani keimanan yang mereka peluk secara bersama-sama. Ketika ada salah seorang pemuda yang menepi dari keramaian ibadah dan pesta yang diperuntukkan bagi berhala-berhala, lalu ada seorang lagi.














