Lalu, datang lagi pemuda; datang pula seorang pemuda lain. Dari percakapan sederhana, lantas mereka meyakini bahwa keimanan para nenek moyang dan orang tuanya terhadap berhala itu salah.
Iman yang benar adalah keimanan kepada Allah Yang Maha Esa. Mereka membentuk kelompok tauhid di tengah kerajaan dan masyarakat pagan (musyrik).
Karena bersama-sama, keimanan mereka makin kuat.
Kolaborasi juga bisa kita lihat ketika mereka terbangun. Pemimpin pemuda itu meminta salah satu dari mereka untuk turun ke kota dan membeli makanan.
Mereka lapar. Tetapi, dia harus tetap hati-hati agar tidak tertangkap oleh prajurit kerajaan. “Karena sesungguhnya jika mereka ketahui tentang hal kamu, niscaya akan mereka rajam kamu, atau akan mereka kembalikan kamu ke dalam agama mereka. Maka tidaklah kamu akan berbahagia lagi buat selama-lamanya. (QS. al-Kahfi [18]: 20).”
Berkat kolaborasi yang mereka lakukan, mereka menemukan janji Allah dalam surah al-Kahfi (18) ayat 16, “…niscaya akan diperlindungi kamu oleh Tuhan kamu dengan rahmat-Nya dan akan disediakan-Nya buat kamu, dalam keadaan kamu begini, suatu kemudahan.”
Optimisme dan kolaborasi akan menjadi kunci penting bagi kita untuk bisa melewati masa pandemic ini dan mempersiapkan diri menghadapi bonus demografi dan menyongsong seabad sumpah pemuda.














