Sudah banyak buku lain tentang Chairil, namun belum pernah menemukan buku tentang Chairil yang mengambarkan masa kecilnya, kenakalannya seperti apa. “Saya suka riset. Saya mau penelitian kecil-kecilan. Dan akhirnya saya temukan. Chairil itu punya satu dendam masa lalu pada orang yang dicintainya. Makanya dia harus merasa jadi binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang,” sambung Sergius, yang juga penulis buku Hatta dan Mangun ini.
Pada buku ini, lanjutnya, tidak ada puisi, karena ingin menguak kisah hidup seseorang. Saya “ingin menulis berdasarkan apa yang saya mau. Aku mau ambil angle pemberontakan batin. Kalau ada puisi dalam buku ini, ya, cuma sekadar penggambaran karakter saja, kalau Chairil itu adalah penyair,” lanjutnya
Sergius mengaku membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk riset mengenai sosok Chairil Anwar, penulisan selama tiga bulan, dan proses editing selama tiga bulan, jadi kurang lebih 1,5 tahun menyelesaikan buku ini. Ada banyak kendala dalam melakukan risetnya, minimnya informasi pustaka dan narasumber mengenai kehidupan masa kecil Chairil cukup menyulitkannya dalam melakukan pengembangan cerita.
Beberapa sumber yang dijadikan referensi Sergius untuk menulis adalah buku ‘Aku’ milik Sjuman Djaya, buku skripsi milik Arief Budiman berjudul ‘Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan’, dan tentunya informasi dari putri tunggal Chairil, yakni Evawani Alissa. “Saya lebih fokus nanya ke Bu Eva saja. Saya juga merasa buku Pak Sjuman Djaya itu sangat mewakilkan ya, sebuah interview itu dibuat dengan wawancara narasumber yang masih hidup,” kata dia.












