“Mata pencaharian kami adalah jualan, tapi bagaimana bisa jualan kita tidak bisa pergi kemana-mana,” ujar mereka mengenang masa-masa sulit itu.
Di sinilah blessing indisguise itu terjadi. Berkat semangat Joni yang positif, mau bekerja dan berpikir keras, pada suatu titik ketika tidak memiliki apa-apa sementara kebutuhan keluarga terus menuntut untuk dipenuhi, Joni mendapati 2 kg daging di kulkas.
“Entah bagaimana tercetus ide untuk membuat bakso sendiri. Saya bukan tukang bakso, tapi kata orang-orang yang beli bakso saya enak,” ucapnya tersenyum.
Akhirnya Joni memproduksi paket bakso dengan bumbunya. Sementara Inna yang bertugas menjual.
“Kebetulan saya masih memiliki hubungan baik dengan para tamu hotel dulu dan saya tawarkan kepada mereka,” katanya.
Diawali dengan getok tular, pembeli bakso Joni-Inna makin banyak sampai sekarang bahkan banyak juga yang menjadi reseller. Agar bonafide, Joni pun memberikan merek pada baksonya.
“Untuk nama, kami sepakat memakai nama ibu mertua, karena namanya Tuti biar keren ditulis dengan ejaan TuTea. Merek ini sudah saya daftarkan ke HAKI saat ada program pendaftaran HAKI gratis dari Pemda,” beber Joni.
Kembali ke GBK. Joni mengungkapkan bahwa selain berjualan paket bakso, dirinya bersama Inna tentu saja, tetap berjualan minuman teh dengan merek TuTea tadi, termasuk di seputaran GBK.














