Ia tak mau lagi peristiwa itu terulang kembali. “Saya merasa bersalah,” ujar dia.
Hal serupa juga dialami Sutoko (47). Berkali-kali ia mengucapkan kata gelo (menyesal) saat menceritakan pengalaman mengantarkan pasien COVID-19.
Kadang ia pun tak sampai menuntaskan kalimatnya saat berbicara tentang pasien positif COVID-19 yang diantarkan ditolak rumah sakit karena kamar sudah penuh.
Ketika itu terjadi, Sutoko pun harus mengantarkan pasien mencari rumah sakit yang masih mau menerima pasien.
Yang paling menyedihkan di tengah upayanya mencarikan kamar bagi pasien, pasien meregang nyawa di tengah perjalanan.
“Saya merasa gagal membantu atau menyematkan orang itu,” kata dia.
Sutoko sama seperti Supono. Ia adalah relawan di komunitas Info Lantas Sidoarjo. Sudah enam tahun ia bergabung dalam komunitas ini sebagai sopir ambulans.
Bergabung di komunitas ini adalah panggilan jiwanya. Sehari-hari, ia adalah seorang petugas satuan pengamanan di sebuah puskesmas di Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur.
“Saya membantu dengan modal tenaga. Pokok bondone semangat tok ae (modalnya semangat saja),” ujar bapak empat anak ini terbahak.
Supono dan Sutoko tak sendiri. Di Bandung ada Hardi. Ia adalah seorang sopir ambulans di Kota Bandung. Ia masih ingat peristiwa yang menimpanya pekan lalu.














