Guna mengamankan pasokan bahan baku, salah satu kebijakan pemerintah adalah pemberlakuan Bea Keluar (BK) Biji Kakao sejak 2010.
Hasilnya ekspor biji kakao turun dari 188,4 ribu ton pada 2013 lalu menjadi hanya sepertiganya atau 63,3 ribu ton pada tahun berikutnya.
Pada tahun 2014, jelasnya devisa yang disumbangkan dari komoditi kakao mencapai USD 1,24 miliar, dan memiliki potensi untuk terus ditingkatkan.
Pengembangan industri ini, lanjut Menperin, diharapkan makin meningkat seiring digulirkannya paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah.
“Semangat paket kebijakan itu adalah deregulasi agar motor kegiatan ekonomi terus bergerak dan menambah lapangan kerja. Juga agar investasi, termasuk kakao dan cokelat terus masuk dan menciptakan nilai tambah,” paparnya.
Masih minimnya konsumsi cokelat di Indonesia, menurut Menperin justru menunjukkan masih adanya ruang bagi pengembangan industri ini.
Salah satu upaya untuk peningkatan konsumsi cokelat adalah melalui sosialisasi maupun gerakan seperti Peringatan Hari Kakao Indonesia yang berlangsung dari 17-20 September 2015.
Acara yang siap digelar diantaranya pameran, penjualan produk, workshop, pemahatan patung cokelat, kompetisi pembuatan kue berbasis cokelat untuk para siswa/siswi SMK, yang ditujukan dalam rangka mengetahui pengetahuan dan kemampuan para siswa tentang pembuatan makanan berbasis cokelat.














