Sementara menurut Amrul Hakim, Direktur Indonesian Film Co-operative, ekosistem film perlu dibangun dari hulu hingga hilir, dari produksi, distribusi, sampai eksebisi.
“Hari ini industri film Indonesia belum dikuasai oleh pelaku film di Indonesia. Oleh karena itu, lewat koperasi film yang didirikan oleh komunitas komunitas film, kita bisa berjejaring dan bekerja sama membangun industri film Tanah Air, seperti yang dilakukan oleh para pelaku film di Kanada, Inggris, dan negara negara lain yang menjalankan industri filmnya dengan basis koperasi film yang lahir dari komunitas komunitas film,” tuturnya.
Ia menginisiasi kegiatan diskusi perfilman yang dihadiri oleh 30 peserta dari komunitas film di wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen yang juga mendapat dukungan dari Kementerian Koperasi dan UKM yang bekerja sama dengan Koperasi Trisakti Bhakti Pertiwi (KOSAKTI).
Dalam sesi terakhir juga telah berhasil dibentuk koperasi film dengan nama Koperasi Multi Kreasi Nusantara yang segera dibadanhukumkan.
“Kami ingin koperasi bisa menjadi bagian dari segala sisi kehidupan masyarakat termasuk di sektor perfilman. Saya berharap koperasi ini bisa ikut mendukung semakin tertanamnya nilai-nilai koperasi di berbagai kalangan masyarakat terutama generasi muda kita,” kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM Rulli Nuryanto.















