“Kami memanggil pelatih untuk masing-masing tarian, jadi kalau ada tiga tarian ya ada tiga pelatih yang kami undang,“ ujar Yanti, seraya menambahkan bahwa Kebaya Menari diberi slot waktu cuma sekira 5 menit di Vatikan.
Namun ia tidak berkecil hati karena di saat festival Kebaya Menari bisa tampil full.
Yanti menambahkan untuk penampilan di Vatikan tersebut, Kebaya Menari telah melakukan persiapan selama tiga bulan, dengan latihan intens 3-4 kali dalam seminggu saat menjelang keberangkatan pada Minggu (19/10/2025).
Ditanya soal kendala yang dihadapi saat latihan, Yanti mengatakan ada dua.
Pertama, semua peserta yang akan berangkat ke Vatikan memiliki pekerjaan.
Karena semua bekerja jadi waktu latihan harus dicocokin mereka sehabis pulang kantor.
“Kedua, kami bukan penari tapi ingin menari, ingin mensosialisasikan, mempromosikan kebaya untuk Indonesia, dan tentu juga ingin menari di depan Paus, jadi effort-nya tiap orang berbeda-beda. Tapi bisa kumpul semua karena mempunyai misi yang sama,“ ujarnya.
Tentang rasa perasaan yang dihadapi Komunitas Kebaya Menari berkesempatan tampil di Vatikan,
“Saya saja yang muslim deg-degan apalagi mereka yang nasrani atau katolik. Saya tentu deg-degan menari di depan Bapa Paus daripada di festival,“ ucapnya.















