Namun, sambung Thamrin, konflik akan muncul seiring dengan pemilihan anggota DPD. Karena mereka DPD itu sangat berkaitan dengan ketokohan di daerah, yang dikaitkan dengan kesukuan dan agama. “Pemilihan anggota DPD rawan konflik horizontal. Konflik antar pendukung sangat mungkin terjadi,” ucapnya
Sementara itu, Abdurrachman memprediksi konflik itu bersumber dari politik. Karena akan menjadi pemicu utama di tahun politik ini. Baik pilpres, pileg DPR maupun DPD RI. Alasannya, konflik di daerah terkait pilkada selama ini selalu dipicu oleh elit politik sendiri. Apalagi dibarengi dengan penggelontoran uang atau money politics, maka konflik itu akan lebih memanas lagi dengan sikap provokasi dari tim sukses masing-masing kandidat. “Rakyat sendiri belum cerdas,” ujarnya.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan, bahwa kenapa rakyat mudah diprovokasi dan digerakkan untuk konflik tersebut? “Karena rakyat masih miskin, lapar, kebodohan, ketidakadilan dan sebagainya. Saya berbeda dengan orang kaya dan terdidik, mereka ini jelas tidak mudah digerakkan maupun diprovokasi oleh elit,” ungkap Abdurrachman.
Oleh sebab itu John tak yakin konflik masyarakat selama ini dipicu oleh suku, agama, ras dan antar golongan atau SARA, karena semua agama mengajarkan perdamaian, dan kemanusiaan yang luhur serta melarang perusakan dan pembunuhan. “Konflik selama ini dipicu oleh kesenjangan ekonomi, dan liberalisme sumber daya alam yang tidak berpihak pada rakyat. Anehnya, seolah ada pembiaran konflik, seolah bangsa ini kehilangan identitas Pancasila-nya,” tutur John. **can














