JAKARTA-Konflik antara Rusia dan Ukraina yang meningkatkan harga komoditas terutama harga pangan dan energi global telah menjadi tantangan tersendiri bagi pemulihan ekonomi Indonesia.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Teuku Riefky menjelaskan, sebagai produsen utama batubara dan CPO, kenaikan harga komoditas membuat Indonesia dapat menikmati surplus perdagangan sebesar 9,33 miliar dolar AS di kuartal I 2022.
Namun di sisi lain, indeks harga produsen tercatat telah tumbuh 8,77 persen year on year atau melampaui indeks harga konsumen yang tumbuh 2,64 persen year on year (yoy) pada Maret 2022, yang mengindikasikan terdapat inflasi yang belum diteruskan oleh produsen.
“Peningkatan harga energi juga memberikan tekanan pada sisi fiskal. Estimasi kami mengindikasikan kenaikan harga energi akan meningkatkan belanja subsidi dari Rp207 triliun ke Rp314,4 triliun di 2022,” kata Teuku di Jakarta, Jumat (6/5/2022).
Peningkatan harga energi juga akan menurunkan ruang fiskal dari sekitar 15 persen ke 11,9 persen sehingga reformasi skema subsidi energi, dari subsidi produk ke subsidi untuk penduduk yang ditarget, sangat dibutuhkan.
Hal ini agar defisit APBN 2022 dapat kembali ke bawah 3 persen dari PDB di 2023.












