“Dari total 1,7 GW, sekitar 77% kapasitas pembangkit berada di wilayah Timur Indonesia yaitu Maluku, Papua, Sulawesi, dan Bali Nusa Tenggara. Sedangkan 33% berada di Nias dan Kalimantan. Indonesia Timur terus menjadi concern Pembangunan Pemerintah,” ungkapnya.
“Pemerintah mendorong peningkatan pemanfaatan gas untuk dalam negeri, dengan pembangunan infrastruktur gas seperti fasilitas LNG maupun pipa transmisi dan distribusi. Untuk Sumatera dan Jawa, pipa transmisi gas akan terhubung mulai dari Utara Sumatera hingga Timur Jawa. Ini terus dilanjutkan,” tambah Ego.
Pemanfaatan gas lebih bersih dibanding diesel, sehingga dampak lingkunganya lebih positif.
“Selain itu, sesuai arahan Bapak Menteri ESDM, untuk pembangkit kecil-kecil di pulau terluar, agar PLN melakukan kajian kemungkinan penggunaan energi alternatif lain energi terbarukan supaya pulaunya lebih bersih, bisa pakai solar cell atau biomasa,” jelas Ego.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Utama Pertamina (27/2), total investasi yang akan dikeluarkan oleh Pertamina untuk pengerjaan seluruh proyek konversi pembangkit tersebut sebesar US$ 1,3 miliar atau Rp 18,2 triliun (kurs Rp 14 ribu/USD).












