Melihat ke konteks global, memang ada negara-negara dengan koperasi yang kuat, seperti Jerman dan Jepang, yang mandiri dan berdaya. Namun, mereka membangun kekuatan tersebut dari fondasi akar rumput yang kokoh, bukan semata-mata dari guyuran dana pemerintah.
Sementara itu, di negara-negara berkembang seperti India atau Bangladesh dengan skema microcredit ala Grameen Bank, fokusnya lebih pada pemberdayaan individu miskin dengan pinjaman kecil, bukan koperasi dengan dana besar yang rentan birokratisasi.
Oleh karena itu, program Kopdes Merah Putih, meski memiliki potensi, harus diimplementasikan dengan sangat hati-hati. Tanpa perbaikan fundamental dalam tata kelola koperasi, pengawasan yang ketat, serta penekanan pada kemandirian dan daya saing yang sehat, inisiatif ini berisiko menjadi babak lain dari intervensi negara yang, alih-alih memberdayakan, justru menciptakan ketergantungan dan potensi kerugian.
Keberhasilan program ini bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak dana yang disalurkan, tetapi seberapa besar kapasitas dan kemandirian ekonomi desa benar-benar terbangun.
Marselinus Gual
Direktur Politeia Institute Indonesia












