Unjuk rasa bukan sekadar soal izin resmi atau prosedur hukum; ia adalah denyut nadi demokrasi, barometer yang menandai kesehatan politik, sekaligus cermin dari legitimasi yang rapuh.
Di setiap teriakan, langkah kaki di jalanan, dan benturan di titik-titik kerumunan, selalu muncul pertanyaan yang menghantui: apakah negara benar-benar hadir untuk melindungi hak-hak rakyat dan menjaga demokrasi, atau justru berubah menjadi mesin represi yang menekan?
Sementara itu, rakyat seolah terjebak dalam dilema yang pahit, antara hak yang seharusnya mereka nikmati dan kekerasan yang, entah sadar atau tidak, lahir dari gelombang energi kolektif mereka sendiri.
Peran media sosial menjadi krusial. Video viral, potongan rekaman emosional, dan narasi cepat memperkuat solidaritas sekaligus memicu emosi yang sulit dikendalikan.
Apa yang semula aksi simbolik kini diperkuat tekanan digital, membuktikan bahwa protes fisik dan protes virtual saling menguatkan dan menciptakan dinamika demokrasi modern yang kompleks, rawan, dan penuh paradoks.
Platform digital menyebarkan video, narasi emosional, dan rumor tanpa filter, sehingga solidaritas meningkat, namun risiko disinformasi dan framing kekerasan juga membesar.












