Pengusaha juga menyangkal klaim Bahlil bahwa mereka mendukung penundaan pemilu.
Artinya, semua opini yang mengatakan masyarakat mau menunda pemilu adalah bohong besar?
Dan semua ini jelas merupakan blunder besar merusak kredibilitas pemerintah di dalam negeri maupun luar negeri.
Ketiga, upaya tidak berhenti sampai di situ, bahkan blunder semakin parah. Airlangga dan Luhut mulai penetrasi. Airlangga bertemu Surya Paloh, ketum Nasdem.
Luhut, melalui wawancara dengan Deddy Corbuzier, mengatakan menangkap aspirasi masyarakat mendukung penundaan pemilu.
Mungkin mereka berpendapat kalau partai politik sepakat rakyat bisa apa? Masyarakat dianggap hanya kerikil kecil yang tidak berarti. Kedaulatan Rakyat hanya dianggap sebagai sampah?
Tetapi semua ini kandas. Masyarakat terus melawan. Enam partai politik rupanya mendengar pekikan rakyat, dan serta merta menyatakan menolak penundaan pemilu.
Bahkan dukungan untuk amandemen konstitusi juga ditarik kembali, khawatir disusupkan penumpang gelap kudeta konstitusi.
Kali ini peran Luhut menjadi terang-benderang, dari yang sebelumnya mengatakan tidak tahu apa-apa mengenai penundaan pemilu.
Keempat, blunder semakin parah dan brutal. Menunjukkan kondisi objektif semakin kalap. Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia atau APDESI diobrak-abrik.












