“Dari kerja sama ini, diharapkan akan membuka akses pasar ekspor lebih luas lagi bagi keduanya, baik di Asean maupun regional, di mana masing-masing sudah punya jaringan,” ungkapnya.
Dari produksi di Banyuwangi ini, PT INKA bisa fokus di pasar berkembang seperti Bangladesh, India, Sri Lanka dan Filipina, sedangkan Stadler untuk memenuhi pasar seperti Singapura dan Australia.
Dengan
penerapan teknologi terbaru, menurut Airlangga, pabrik PT INKA di
Banyuwangi nantinya siap memproduksi berbagai jenis kereta mulai dari light railtransit
(LRT),
metro, sampai yang kereta kecepatan tinggi. Bahkan, melalui penggunaan
mesin canggih, pabrik ini mampu memproduksi 4 kereta per hari atau
sanggup melampaui 1.000 kereta per tahun.
“Kami terus memacu industri perkeretaapian nasional agar dapat menguasai pasar domestik dan semakin berperan dalam supply chain industri perkeretaapian untuk pasar global,” tegasnya.
Saat ini, Indonesia termasuk salah satu pemain industri manufaktur sarana kereta api terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan studi perusahaan independen Jerman, PT INKA berada di posisi 22 dalam jajaran industri kereta api di dunia.
Selain
mengunjungi kantor pusat Stadler Rail Group, dalam rangkaian agenda
menghadiri perhelatan 2019 World Economic Forum Annual Meeting di Davos,
Menperin juga melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin perusahaan
internasional seperti CEO GE Gas Power Scott Strazik.













