Menurut Dani, banyak manfaat yang didapatnya setelah menggunakan wood pellet. Selain lebih hemat, tahu yang dihasilkannya juga jadi lebih bersih.
Pun halnya lingkungan tempat tinggalnya tidak tercemar asap hasil pembakaran lantaran pembakaran wood pellet tidak menghasilkan asap.
Diterangkan, sebelumnya menggunakan wood pellet, Dani merogoh kocek Rp 700 ribu untuk membeli kayu bakar sebanyak dua mobil pickup.
Sementara saat ini, ia hanya perlu mengeluarkan Rp 600 ribu untuk 240 kilogram wood pellet.
“Itu untuk memproduksi 1 ton tahu. Harga 1 kilogram wood pellet Rp 2.500,” kata dia sembari mengatakan bahwa dalam sehari pabriknya memproduksi 60 ribu hingga 70 ribu potong tahu untuk memenuhi konsumen di Subang dan Indramayu.
Dani menambahkan, selain kayu, ia juga pernah menggunakan gas LPG. Namun LPG kurang mendukung terkait kapasitas produksi.
Bahkan, ia juga pernah ditawari untuk menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar.
Namun, Dani menolak tawaran itu karena membaca pemberitaan mengenai dampak buruk penggunaan limbah plastik di pabrik tahu di Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur.
“Kemudian saya bertemu Bu Sari yang memproduksi wood pellet. Setelah dilakukan uji coba ternyata cocok dan lanjut hingga sekarang,” ucap Dani.















