Menurutnya, pabrik wood pellet juga harus didukung pabrik lainnya. Misal pabrik kayu ataupun pabrik lain yang menghasilkan limbah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku wood pellet.
Khusus wilayah Subang, ia melihat jika sektor terpadu seperti yang dimaksudnya masih kurang.
“Selama ini kebijakan jadi kelemahan kita padahal wood pellet ini sangat bagus,” ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Donny, pihaknya akan menguji feasibility industri tersebut. Tentunya, Kadin akan menggandeng produsen ataupun pengguna wood pellet agar semua aspek bisa dihitung secara matang.
Berdasarkan hitung-hitungan praktisi mesin pembakaran atau burner wood pellet, Sri Wahyu Purwanto, jika dibandingkan dengan LPG, wood pellet bisa hemat hingga 50%.
Menurutnya, butuh sekitar Rp 1,2 juta untuk beli LPG dengan penggunaan selama 12 jam sehari. Sementara wood pellet, hanya Rp 600 ribu.















