Karena bisa mendorong timbulnya anti pati dan kebencian rakyat terhadap pemerintah.
“Hati-hati , dolar AS terus merangkak dan hampir mendekati Rp 13.000, jangan dianggap enteng, ini sudah lampu kuning,’’ ujarnya.
Menurut Lily, pengusaha tekstil di Jawa Barat sudah menjerit terkait kenaikan TDL.
Artinya itu sama saja lonceng kematian perusahaan tekstil di tanah air.
Karena dampak kenaikan BBM, perusahaan terbebani biaya transportasi, lalu UMR sebesar Rp 2,3 juta per bulan, maka biaya produksi jadi mahal.
“Banyak investor yang lari ke Vietnam karena beaya produksinya lebih murah, suku bunga bank lebih rendah, produktivitasnya lebih tinggi. Di Vietnam, 48 jam per minggu, di kita 40 cuma jam. Jadi, kalau per 1 Januari 2015 pemerintah menaikkan tarif listrik, maka banyak perusahaan gulung tikar,’’ ujar Lily lagi.
Sebelumnya, Ketua Komisi VI DPR, Hafisz Tohir mengatakan, pemerintah mesti berkonsultasi dengan DPR kalau mau menaikkan tarif listrik.
“Tidak boleh listrik naik tanpa persetujuan DPR, karena melanggar UU No.30 Pasal 11 ayat 1 dan 3,’’ katanya.