Trend kampanye negatif terhadap Priyono, jelasnya bisa dilihat dari riset media. Data pada salah satu media menunjukkan; pasca pembubaran BPMigas hingga awal Agustus 2014, tidak ada serangan kepada dan berita Priyono.
Pada September – Oktober 2014, pasca tertangkapnya Rudi Rubiandini, ada 56 berita yang menyerang mantan Kepala BPMigas itu. Serangan dimulai lagi pada Januari 2014 dan kemudian berturut-turut setiap bulan hinggal Juli 2014. “Sangat mudah untuk dilihat siapa yang bermain di belakang ini semua. Hal yang sama juga dapat dilihat alurnya jika merefer berita-berita menjelang pembubaran BPMigas. Siapa yang proBPMigas dan siapa yang menyerang BPMigas. Hanya saja perbedaannya, pada November 2012 yang digulingkan adalah BPMigas, dan sekarang yang dituju adalah R. Priyono yang dulu adalah Kepala BPMigas,”katanya.
Rahmad sangat yakin bahwa kelompok mafia BBM ada di belakang serangan kepada Priyono, yang memiliki karakter dalam nasionalisme. Bahkan sangat bisa dibaca, media yang ingin membubarkan BPMigas dan yang menyerang Priyono adalah sama. Hanya saja ada yang berubah yakni tidak banyak media yang menyerang R. Priyono seperti ketika akan membubarkan BPMigas. Konstelasi Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta sangat dipahami oleh media-media. “Menyerang salah satu pendukung Jokowi-JK sekalipun masih dalam lingkaran internal, apalagi eksternal, sama dengan anti Jokowi-JK, yang de facto adalah Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Serangan kepada orang Jokowi-JK, bisa terjadi pada siapa saja. Ribka Ciptaning yang tokoh PDIP juga diserang, sebagai contoh. Justru di sinilah letak konflik kepentingan yang terjadi,” ungkapnya.














