Lampu surya itu memberikan secercah sinar bagi warga untuk melalui malam dengan lebih produktif. Malam di kampung halaman Mince kini tidak lagi sepi dan gelap.
Mince bercerita, sebelum adanya LTSHE, aktifitas di Kampung Timi berhenti sampai petang. Malam hari ia habiskan di honai, hanya untuk istirahat.
“Tapi sekarang ada lampu saya bisa bikin noken di malam hari. Terima kasih atas lampunya,” ungkap Mince tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Sama halnya dengan Mince, anak-anak di Kampung Timi sebelumnya juga mengalami kesulitan untuk belajar jika malam menjelang.
Penerangan malam hari di dalam honai yang kadang hanya berasal dari tungku api kayu bakar tidaklah cukup memberikan cahaya bagi anak-anak untuk belajar.
Anceli Gire, seorang anak usia sekolah dasar di Kampung Timi, menuturkan bahwa ia tidak bisa belajar kalau malam karena kondisi gelap.
“Dulu sebelum ada lampu tidak bisa belajar kalau malam. Sekarang sudah ada lampu jadi bisa belajar,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak hanya untuk penerangan di dalam honai, warga kampung Tini yang suka berburu juga memanfaatkan LTSHE untuk membantu melakukan perburuan.
“Masyarakat juga ada pakai lampu (LTSHE) untuk berburu. Dari empat lampu, dua lampu mereka pakai untuk berburu ke hutan,” ujar Oktovianus Hisage, salah seorang tim teknisi yang memasang LTSHE di Kampung Timi kepada tim esdm.go.id.













