“Jadi, memang politik anggaran kita masih belum adil. Harus kita akui, system yang berjalan ini masih belum adil bagi wilayah yang disebut tertinggal,” katanya.
Tak Ngoyo
Menjadi anggota DPR RI bukanlah puncak karier seorang Lazarus.
Namun, Lazarus bukanlah tipikal politisi yang ngoyo.
Tetapi siapapun, pasti mempunyai cita-cita, keinginan, kemauan dan tujuan hidup untuk sedapat mungkin bisa berbuat lebih banyak bagi kemajuan daerah dan bangsa Indonesia.
“Tetapi saya termasuk orang yang tingkat kehati-hatian dalam melangkah sangat tinggi. Saya tidak kepengen gegabah. Kalau memang masuk dalam hitungan saya maka langkah-langkah politik selanjutnya pasti akan diambil,” ujarnya.
Prinsipnya, selama peluang masih terbuka, segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Apalagi kalau masyarakat menghendakinya. Sebagai politisi, tentu punya banyak osebsi.
Namun osebsinya tidak muluk-muluk. Lazarus berkeinginan agar bisa berarti ketika menduduki sebuah jabatan.
“Seperti sekarang, saya menjadi wakil rakyat dari Kalimantan Barat. Saya rindu, kalau ada masyarakat yang mengatakan kepada saya..“Pak Lazarus, ternyata berbeda ketika bapak di DPR RI dengan anggota DPR yang lainnya. Ternyata bapak betul-betul menjadi wakil rakyat yang kami harapkan. Jadi, saya ingin masyarakat puas dengan apa yang saya lakukan,” tuturnya.















