JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR Rudi Hartono Bangunbanyak menyoroti kinerja dan manajemen Pertamina.
Hal ini terkait dengan kasus dugaan korupsi jenis BBM Pertamax yang diduga merugikan negara sekitar Rp193,7 Triliun.
“Jadi saya banyak mendapat pertanyaan dari para konstituen di daerah, karena konstituen saya juga sebagai konsumen Pertamina,” katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, Plt Dirut PT.Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra dan lain-lainnya, di Komisi VI DPR, Selasa (11/3/2025)
Namun demikian Politisi Nasdem itu mengaku wajar jika Pertamina sebagai perusahaan mencari untung (profit oriented).
Hanya saja konsumen Pertamina yang berada di Daerah Pemlihan Sumatera Utara III banyak mencurahkan keluh kesahnya.
“Tolong tanyakan Pak Rudi, apa benar Pertamina impor BBM RON 88, lalu dijual kepada kami dengan harga RON 92,” ujarnya sambil menirukan curhatnya konsumen.
Lebih jauh Rudi membeberkan keluhan dari masyarakat Sumatera Utara, dimana mereka menduga terjadi ketidakberesan dalam transaksi impor BBM.
“Mereka agak kritis ini, pak. Apa benar ada mark up dalam mengimpor BBM dari luar negeri?,” terangnya lagi.
Tidak hanya itu, lanjut Rudi, para konsumen ini juga mempertanyakan proses pengolahan BBM di kilang dalam negeri.












