Sejak tahun 2000, vetiver sudah dikembangkan di Indonesia. Badan penelitian dan pengembangan pertanian sudah banyak melakukan penelitian tanaman tersebut baik untuk produksi minyak atsiri maupun sebagai tanaman pencegah erosi dan longsor.
“Bahkan sistem vetiver sudah punya jaringan internasionalnya,” ujar Titut.
Titut mengatakan penggunaan sistem vetiver untuk pencegah longsor dan erosi sedang diterapkan di beberapa daerah di Bali, salah satunya di Desa Ban lereng timur Gunung Agung.
Upaya pemanfaatan teknologi vetifer ini juga diaplikasikan di daerah hamparan kali Ciliwung Depok pada 2013.
Tanaman rumput vetiver tidak menghasilkan bunga dan biji sehingga tidak berpotensi invasif dan merusak ekosistem. Vetiver tidak mempunyai rimpang, tetapi memiliki akar serabut, menyebar dan banyak.
“Selama tanaman ini tidak.dipanen akarnya untuk minyak atsirinya, dia dapat digunakan sebagai pencegah longsor,” tuturnya.
Titut menuturkan sebaiknya tanaman vetiver ditanam saat awal musim hujan sehingga pada umur 2-3 bulan sudah dewasa.
Vetiver bisa ditanam dengan tanaman penutup tanah yang lain yang memiliki pertumbuhan lebih cepat seperti dari jenis polong-polongan karena pertumbuhan vetiver yang ke atas. Sehingga diharapkan sebelum vetiver tinggi, tanah sudah tertutup oleh tanaman penutup tanah lain yang tumbuh melebar.














