Bagaimanapun juga, jelasnya, saat ini, masyarakat telah terbagi dua kekuatan besar opini publik yakni Pro Jokowi-JK atau Pro Prabowo-Hatta.
Yang penting untuk dipahami adalah, siapapun yang menggoyang pemerintahan Joko Widodo- JK, akan dinilai oleh publik sebagai kelompok Pro-Prabowo Hatta.
Sehingga ini, tambahnya, akan mudah dimanfaatkan oleh kelompok mafia migas untuk mengadu domba kedua kelompok besar masyarakat.
“Energi dimanapun juga selalu berkaitan erat dengan politik. Ini adalah perang energi yang merupakan lanjutan dari debat capres. Dan, siapapun, baik itu tokoh yang membuat statemen atau media yang memuat, akan dianggap mengancam dan menyerang pembentukan kabinet pemerintahan mendatang,” ujarnya.
“Tidak masalah, apakah serangan yang ditujukan kepada para calon itu secara langsung ataupun tidak, pasti akan dicap sebagai kelompok Pro Prabowo-Hatta. Dan yang paling mudah, mereka yang menyerang pemerintahan mendatang adalah yang bukan dari kelompok Pro Jokowi-JK dan merupakan kelompok yang kepentingan energinya terancam dengan pemerintahan mendatang, yakni mafia migas” jelas Rahmad.
Kondisi inilah, yang oleh Rahmad disebutkan sebagai tidak arif karena menempatkan pemerintahan sekarang pada posisi yang tidak tepat.














