JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 2.564 kejadian bencana alam di Indonesia sepanjang tahun 2018. Badai, tanah longsor, gempa bumi dan serangan teror kerap meninggalkan kerusakan yang meluas, mulai dari kerusakan pada lingkungan hidup hingga menimbulkan korban jiwa.
Para korban yang terkena bencana seringkali sangat sulit dijangkau oleh tim pencari dan penyelamat karena lokasinya. Selain lokasi, informasi mengenai medan yang ditempuh juga mempengaruhi jalannya misi pencarian. Seringkali minimnya kendaraan bantu dalam kegiatan pencarian menjadi keterbatasan dalam melakukan misi penyelamatan.
Permasalahan ini membuat anak bangsa terus berinovasi untuk menciptakan teknologi pencarian dan penyelamatan pada keadaan bencana. Salah satunya mahasiswa dari Program Studi Teknik Mesin Unika Atma Jaya, yaitu Yosua Kurniawan, selaku Ketua Tim, Ferdinand Edlim, selaku Anggota 1, Febrian Andika, Anggota 2, dan Christiand, S.T., M.Eng, selaku Dosen Pembimbing Prodi Teknik Mesin Unika Atma Jaya, yang mengembangkan Search and Rescue Hybrid Robot (SRHR).
SRHR tersebut dilengkapi dengan mekanisme gerak hybrid berupa roda dan kaki bermiripan dengan hewan laba-laba. Robot dengan mekanisme gerak hybrid ini berguna untuk membantu kegiatan pencarian dan penyelamatan korban bencana.













