“Sehingga pada 2045 akan menjadi Indonesia Emas. Syaratnya hanya satu, yakni memupuk dan menjaga kebersatuan, karena yang menjadi gangguan saat ini adalah masalah kebersatuan atau ikatan kebangsaan kita,” ucapnya.
Dipilihnya Kabupaten Banyuwangi sebagai titik terakhir kegiatan Jelajah Kebangsaan, ia mengatakan karena kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu bisa menjadi contoh Indonesia masa depan yang bisa dikembangkan oleh kabupaten/kota lain.
Selain itu, katanya, Banyuwangi sumber daya alam dimanfaatkan sedemikian rupa dan permasalahan-permasalahan masyarakat diselesaikan dengan baik, serta beberapa kegiatan mempersatukan masyarakat dan membiayai kegiatan tokoh lintas agama.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan bahwa dalam konteks kebangsaan, di Banyuwangi sebenarnya melakukan pertemuan rutin dengan tokoh lintas agama (FKUB), baik ada permasalahan maupun tidak ada permasalahan dan tempat pertemuan bergantian.
Bahkan, kata Anas, anggaran untuk kegiatan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) ditambah atau diperbasar. Jika di daerah lain kegiatan FKUB dianggarkan sekitar Rp150 juta, di Banyuwangi bisa mencapai Rp2,5 miliar.
“Anggaran kegiatan FKUB diperbesar, karena bagi kami pembangunan di daerah itu bukan hanya fisik, namun investasi merajut persaudaraan dan kebangsaan itu sangat penting,” tutur Bupati Anas.













