MANGGARAI TIMUR, BERITAMONETER.COM – Hujan selalu menjadi penanda kecemasan bagi Martina Iman (56), seorang ibu rumah tangga yang menjalani hari-harinya dengan ketegaran yang sunyi serta menanggung beban hidup yang berat.

Setiap tetes air yang jatuh dari atap rumahnya yang usang hampir pasti akan merembes masuk ke rumah kecilnya di Kampung Wae Solong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.
Rumah yang mereka tempati berdiri dalam segala keterbatasan. Bangunan berukuran sekitar 7 x 8 meter itu berdinding papan yang mulai lapuk, setengah tembok di bagian bawah dengan batu bata retak dimakan usia. Atap seng berlubang dan kerap bocor, lantai masih berupa tanah yang dingin, dapur kecil berdinding bambu yang mulai dimakan rayap, serta fasilitas WC yang sangat sederhana. “Kalau hujan, kami sering basah. Sengnya banyak yang bocor,” ujar Martina lirih sambil menerawang ke arah atap.

Sejak suaminya, Herman Ngaa (58), terserang stroke tiga tahun lalu, hidup Martina sekeluarga berubah sepenuhnya. Pria yang dulu menjadi sandaran keluarga kini hanya bisa terbaring dan sesekali duduk di tempat tidurnya yang sederhana dengan kondisi sebagian tubuh dan kedua kaki tak lagi dapat digerakkan.












